Sabtu, 26 Maret 2016

Realita Budaya


     Sejak kecil, kita sebagai masyarakat Indonesia selalu dicekoki pandangan menyejukkan tentang keadaan negara kita. Bahkan, kita pun merasa terlena dan lupa bahwa ada tanggung jawab besar dan bentuk aksi nyata yang harus dilakukan. Jika ingin menjadi negara yang besar sudah pasti harus berkaca pada sejarahnya dan kondisi riilnya saat ini. Jika sejak awal kita hanya dikenalkan dengan berbagai keindahan alam Indonesia, keberagaman suku. Budaya dan sejuta kiasan lainnya maka kita hanya akan terbelenggu oleh kenyamanan yang ditunjukkan. Namun, apa jadinya jika sebuah tamparan kecil pelecut semangat nasionalisme berasal dari sisi buruk yang dimiliki Indonesia. Seperti halnya, kurangnya pengenalan budaya antar suku. Sehingga dari berbagai pengetahuan tersebut akan menambah wawasan yang dapat meningkatkan rasa kepedulian antar suku. Berkaca dari berbagai masalah pelik yang sering dibersar-besarkan saat ini, seperti kasus ketika pengklaiman budaya Reog Ponorogo oleh negara tetangga kita yang masih serumpun yaitu Malaysia. Apakah rasa kecintaan terhadap budaya harus dilecuti dengan kasus-kasus Internasional? Justru perasaan itu muncul ketika kita mengetahui bahwa itu adalah salah satu dari budaya sendiri. Mengapa justru demikian? Karena kurangnya pengenalan berbagai budaya yang ada. Ibarat seorang anak yang tidak mengenali saudaranya. Kecintaan kita sangat minim. Untuk menampilkannya saja kebanggan itu tidak ada. Justru keindahan khas suku Indonesia laris peminat di negara-negara lain. Ketika kita asyik digundahkan dengan budaya asing, budaya kita pun lari. Pemuda saat ini sudah mulai dikikis keabsahan dirinya sebagai bangsa yang santun, sopan, dan bersahaja. Melihat kondisi seperti ini, harus ada langkah-langkah penyelamat dan pendobrakan jati diri pemuda sebenarnya.


  1. Kenali dirimu, kuasai bangsamu.

Kenali diri kita sebenarnya. Bagaimana bisa menjadi bangsa yang utuh jika saja dengan dirinya ia tak mengerti. Yakin, semua potensi ada pada kita sendiri. Tertuju pada apa yang akan kita lakukan. Banggalah menjadi bangsa dengan seribu budaya. Namun, kita juga harus mengenalinya dengan baik sehingga dapat menguasai dan memahami secara utuh apa itu Indonesia sesungguhnya. 

2.   Bentengi diri.

      Tak dapat dipungkiri dengan kemajuan teknologi banyak perubahan yang dialami. Baik dari segi positif dan negatif. Jika tersadar dari hal tersebut, kemudahan akses melirik dunia membuat kita mengenali berbagai budaya asing. Namun, mengetahui hal tersebut bukan berarti fitrah pemuda Indonesia harus luntur dan berganti jati diri. 

3.    Lakukan Pembenahan.

      Indonesia adalah rumah kita. Dimana kita tinggal dan jika kita pergi, maka disanalah tempat tujuan untuk kembali atau hanya sekedar melepas lelah dan rindu. Selayaknya rumah, kita harus merawatnya dan melakukan renovasi terhadap apa yang dibutuhkannya. Indonesia kaya akan segala hal. Namun, untuk belajar saling peduli dan menjaganya dengan baik kurang dipahami seutuhnya. Pembenahan disini bukan hanya menyelesaikan masalah yang ada, namun juga mengembangkan aset yang kta miliki. Menginovasikan hal-hal baru yang inspiratif dan mendidik agar kedepannya tidak hany berbatas saat ini dan seperti ini saja melainkan adanya pembaharuan setiap saat. 

       Terlepas dari hal tersebut tak ada salahnya jika sedikit melirik negara lain yang berhasil menemukan jati dirinya sendiri. Pemuda saat ini labil, tak memahami siapa dia sebenarnya. Hanya bermodal ikut sebelah dirasa ia adalah yang terhebat. Bukan seperti itu. Cinta budaya juga tidak harus dilakukan secara berlebih. Bersahaja dan saling bertoleransi sesama. Menghargai orang lain, saling menjaga dan menghormati. Keunikan bangsa yang mulai terlupakan. Ada baiknya jika kebudayaan dari bangsa lain diambil hal positifnya saja. Kebudayaan disini bukan hanya sekedar karya cipta rasa saja, melainkan kebiasaan pula. Seperti misalnya, kebudayaan yang positif dari Amerika. Yaitu, sejak umur 18 tahun para remaja sudah mulai mandiri dan tidak bergantung pada orang tuanya. Mereka melatih kreatifitas dan peluang kerja mereka. Ada berbagai cara dan inovasi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya. Namun disini hal tersebut belum terealisasi di Indonesia. Bangsa ini hanya ditunjukkan hal negatifnya saja, seprti budaya free sex. Namun hal yang membangun demikian justru terlupakan dan tidak diterapkan.  Sebagai pemuda banyak hal yang masih bisa dilakukan dan dipertahankan. Bangsa atau negara yang menang adalah negara yang mengetahui apa yang akn terjadi, sehingga ada berbagai antisipasi yang dilakukan sebelum hal tersebut terjadi. Oleh karena itu, tambahlah selalu wawasan kita dan berbagai informasi terkini yang ada. Serta olah dan saring berbagai informasi yang ada. Pilah dan sesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Fleksibel juga diperlukan seiring perkembangan zaman.(AR)

3 komentar:

 

Rahma Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design