Selasa, 01 November 2016

Apa sebutan yang pantas untuk seorang ‘Mahaguru’?

https://web.facebook.com/photo.php?fbid=1557059111262833&set=pb.100008762777197.-2207520000.1478017979.&type=3&theater
Abah, lebih dari sekedar Mahaguru.
          Beberapa bulan lalu, Saya dikejutkan dengan salah satu postingan teman saya di akun facebook miliknya. Ia meng-upload hasil editan foto guru saya dengan caption, ‘Sebutan apa yang pantas untuk seorang Mahaguru?’. Dari positingan tersebut, pikiran saya flashback, mengingat hasil kerja keras dan usaha yang hasilnya saya rasakan saat ini. Hal tersebut ada kaitannya dengan guru saya? Mengapa? Karena beliau begitu berasa dalam mengantarkan seluruh anak didiknya hingga jenjang selanjutnya. Apakah beliau termasuk orang besar? Ya, di mata kami beliau adalah salah satu orang paling berjasa dalam kehidupan kami. Meski namanya tak setenar artis televisi ataupun tokoh kondang.
            Kami mengenalnya beliau dekat, sedekat kehangatan setiap hari yang kami rasakan. Tak pernah lelah mengingatkan semua anak didiknya, meskipun beliau sendiri dalam keadaan payah melebihi kami. Apa saja? Banyak, ketika memaparkan kehebatan beliau. Dibalik orang-orang hebat, tersimpan sebiah ketulusan hati.

  •  Selalu memberi contoh di depan.
Tak sedikit perkataan yang selalu menguatkan hati kami. Semangat untuk terus berprestasi, tak jarang keluarga pun dotinggalkan demi amanah besar ini. Salah satu prinsip yang sangat kuat dan begitu mengena. ‘Anak adalah titipan Allah. Jika kami serius, bersungguh-sungguh membina anak-anak didik saya, maka Allah akan mendidik anak kandung saya dengan caraNya.
  •        Sholat sunnah.

Istiqomah sholat sunnah. Terutama tahajud, witir, tasbih, dhuha dan selalu mengingatkan kami arti kehidupan sesungguhnya. Tak pernah sekalipun absen dihadapan kami untuk menunaikannya bersama-sama di masjid. Meski halangan mendesak, dan udara dingin merayu badan.
  •    Ikhlas

Apapun beliau usahakan yang terbaik. Tak tanggung apapun itu ia korbankan. Segala tenaga, doa, pikiran, hati semua untuk kami. Dibalik keikhlasan itu, selalu terlihat senyum bahagianya. Tak pernah sekalipun ia curahkan pamrih. Ikhlas, bahkan terkadang keluarga beliau ikut berkorban demi masa depan kami. Yang merupakan project serius, bukanlah sekedar main-main. ‘Jika kita tulus, Allah yang pantas memberi imbalan. Jangan ragu.’ Dan karena hasil tidak akan menghianatai usaha.

  • Berkahnya, selalu diharapkan. 

Doanya, selalu dinanti. Bahkan sekalipun sudah berjauhan, beliau lah tempat berbagi. Sejenak meluangkan waktu, memberi kabar. Hingga sesuatu yang sungguh-sungguh ingin dibicarakan. Ikhlasnya, keistiqmoahannya, keteguhan hatinya, menguatkan kami dan selalu menjadi acuan semangat kami untuk berkreasi, sekalipun tanggung jawab itu sudah berpindah estafet. Semoga sehat selalu ustadz, aamiin.

Pacet, Mojokerto.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rahma Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design