Selasa, 01 November 2016

Refleksi : Seputar Paham, atau Takut Ujian.

            Sebut saja sebelum ujian. Persiapan selalu dilakukan semaksimal mungkin, bahkan rela melakukan hal yang bukan kebiasaan sehari-hari. Ujian disini lebih pada persoalan di kelas, yang kami maksud. Bagaimana persiapan untuk mengahadapi ujian. Bahkan melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan untuk memersiapkan yang terbaik. Atau mungkin dengan istilah Jawa ‘Ngoyo’, memaksaka diri. Padahal, apa sih makna ujian sekolah bagimu? Sekilas, ini seputar ujian juga. Bagaimana ujian bisa sangat menjadi hal yang mengerikan. Tapi harus dilaksanakan. Seperti itulah dinamika sekolah.            Bagaimana awal terbentuknya sekolah versi dunia Barat? Ingat kejadian Revolusi Indsutri? Nah, pada saat itu, para industri membutuhkan tenaga kerja agar memudahkan pekerjaan yang ada. Oleh karena itu, diadakan sekolah dimana dididik untuk memiliki ketrampilan yang sama, guna menyelesaikan pekerjaan dengan banyak dalam waktu singkat. Para pekerja disini adalah hasil didikan dari sekolah tersebut. Lalu, bagaimana dengan ‘madrasah’? identik dengan umat muslim. Dimana awalnya merupakan halaqoh, yang membahas mengenai Islam lebih dalam lagi. Lalu, mulailah madrasah pertama yaitu Madrasah An-Nidhomiyah,            Bagaimana sekolah seharusnya? Apakah pendidikan itu? Menelaah pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemdidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseotang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sehingga, pendidikan tidak selalu identik dengan sebuah fasilitas mewah pengantar pelajaran formal. Sedangkan pendidikan dapat dilihat dari sisi yang luas. Bagaimana segala kepentingan menghilangkan esensi pendidikan sebenarnya. Sejatinya sekolah seharusnya bisa memanusiakan manusia, bukan sebagai penghasil pekerja.
            Pernahkan terlena dengan akreditasi sebuah sekolah? Prestasi siswa melejit, gedung tinggi bertahta, fasilitas menggiurkan, sesuai dengan pembayaran per bulan. Sebagian orang setuju, bahwa itulah yang dinamaka sekolah sesungguhnya, padahal jika dipelajari lagi justru terdapat banyak kepentingan di belakangnya. Itulah yang disebabkan oleh paradigma Konservatif. Lalu berdasarkan kesadaran, banyak hal yang bisa dilakukan di blalik layar pendidikan. Seperti tertindas atau menindas. Dimana pada sedaran ini merasa bahwa segala sesuatu adalah kehendak Tuhan. Menindas dan terindas pun adalah ketentuan dariNya. Mereka miskin, bodoh, kaya, penguasa, adalah sudah suratan sehingga tiak ada upaya untuk berubah. Selanjutnya, mengenai kesadaran naif. Dimana masyarakat menyalahkan dirinya atas kesalahan yang terjadi. Sehinga ada semangat untuk merubah diri. Dan tertinggi adalah kesadaran kritis, dimana pada kesadaran ini masyarakat diajak untuk berfikir penyebab dari ketidakstabilan yang ada. Lebih membenahi struktur dan sistem. Seningga terbentuknya hal tersebut yang adil. 

1 komentar:

 

Rahma Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design