Jumat, 04 November 2016

Jadi, ini Milik Siapa?

Menumbuhkan sense of belonging. Apa itu? Rasa kepemilikan. Seperti dalam pekerjaan. Sebagian besar orang memilih pekerjaan tersebut hanya ‘sekedar’ menikmati materi yang didapat. Tanpa dipikirkan lagi apa yang akan ia dapat dari pekerjaan selain materi. Seperti hubungan timbal balik yang saling ikhlas memberi. Lain halnya dengan pekerjaan yang dlakukan sesuai dengan passion diri. Dimana selalu ada kenikmatan tersendiri untuk melakukannya. Bukan beban, malah selalu ada inovasi baru, lagi dan lagi. Selalu merasa kurang cukup puas dengan apa yang sudah dicapai. Rasa kepemilikan akan tumbuh ketika hal tersebut merupakan kesenangan kita. Tiada rasa dikejar sesuatu, justru merasa mengejar hal baru yang lebih dari itu.
Sering dilihat, bagaimana begitu banyak perbedaan dalam menyikapi sesuatu. Karena sense of belonging  itu sendiri. Peka, peduli, perhatian, akan diberikan secara lebih jika merasa bahwa hal tersebut adalah ‘miliknya’. Begitu pula sebaliknya. Menikmati sih, namun masih terasa dikejar sesuatu. Ada beberapa kemungkinan. Seperti apakah sudah bergantung dengan hal tersebut atau entahlah.
Ada juga beberapa orang menganggap bahwa pekerjaan adalah tanggung jawab mereka kepada Tuhan. Sehinga mereka mengerjakannya dengan penuh tanggung jawab, dan mengetahui bahwa Tuhan akan membalas apa saja yang tekah diperbuat. Oleh karena itu, ada pertanyaan, apakah pemahaman agama berkolerasi dengan etos kerja? Dalam kenyataannya, beberapa hal tersebut justru ada benarnya. Dipungkiri atau tidak, sedikit banyak ada pengaruh terhadap etos kerja.

Namun, bukan hanya pemahaman agama. Banyak pula dijumpai orang yang berprofesi melayani orang lain. Dalam hal ini, terlebih jika tidak ada tuntutan, maka orang tersebut melakukannya sebatas pekerjaan selesai tanpa memikirkan kepuasan dari pelanggan yang dilayani tersebut. Semisal di minimarket, dimana mengahruskan kasir harus berlaku baik, menyapa dengan sapaan yang sudah ditentukan, agar gaji mereka tidak dipotong. Karena kepuasan konsuman juga akan berdampak pada penjualan minimarket tersebut. Berbeda dengan beberapa pelayanan konsumen, dimana tempat tersebut mereka bertemu dengan banyak orang dan berbagai kebutuhan. Semisal saja pada pelayanan transportasi. Tidak semua pelayanannya bersifat melayani konsumen. Justru pula ada beberapa yang merasa kesal karena berjumpa dengan pertanyaan yang sama atau hal – hal lain yang sama. Seharusnya, sebelum bekerja mereka sudah menyadari bahwa hal tersebut merupakan resiko yang ditanggung mereka, mengingat profesi mereka yang menuntut kenyamanan orang lain. Muka masam, intonasi tinggi, tapi mereka tetap lakukan tersebut kareana konsemun akan tersu menggunakan jasa mereka. Berbeda dengan sistem minimarket yang berupaya agar konsumen mereka puas dan bertambah. Pelayanan pun berbeda, bagaiman jika seumpama konsumen yang mereka hadapi adalaha keluarga mereka sendiri, apakah pelayanannya akan sama? Sudah sebuah naluri kemanusiaan, jika merasa orang yang dekat dengannya akan diperlakuakn secara baik pula. “Tenang aja, mereka juga bukan siapa-siapa saya. Jadi, kalau mereka seperti itu, ya sudah.” Dimana konsumen membayar uang untuk profesi mereka. Lantas, pernah kah terpikir bagaimana memposisikan orang lain seperti dirinya sendiri? Jadi, tanggung jawab ini milik siapa?

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rahma Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design