Selasa, 01 November 2016

Kuliah di bahagia Suami

Biasa dipanggil Uun, karena ibuku sangat mengidolakan salah satu artis era 80-an. Aku sangat bahagia dengan  kehidupanku saat ini. Menjadi guru adalah cita-cita sejak dulu. Bisa berkumpul dengan keluarga, dan menjadikan ilmuku bermanfaat. Aamiin. Bertempat diantara dua pegunungan, salah satu lokasi mengajarku pada Pondok Pesantren. Cukup terkenal karena visi dan misi Kyainya termasuk modern. Terkadang, hal tersebut mengingatkanku pada cerita di pondok dulu. Ketika bosan menyerang, ke-istiqomah-an mulai sedikit goyah, namun semua harus teringat pada tujuan awal mondok.
“Bu, gimana sih Bu, cerita Bu Uun bisa ketemu suaminya?” tanya salah satu muridku di kelas. Hal seperti ini sudah biasa kudapati. Sejak awal mengajar disini, tak hanya mengenai pelajaran Matematika saja tetapi juga sharing kehidupan masa depan. Kupikir juga memang sudah saatnya mereka belajar tentang hal ini, mengingat usia mereka yang mulai dewasa. Wajar, jika pertanyaan menjuru pada masa kedepannya, termasuk pernikahan.
“Nah, ini yang lucu nduk. Ibu bisa ketemu dengan suami Bu Uun di sekolah, waktu Bu Uun SMA.” Jawabku.
Sontak semua terkejut. Yang awalnya sedang serius mencatat pelajaran kemudian bengong dan ikut menyimak. Mengingatkanku pada tahun itu. Seusia mereka, di pondok juga.
            Ketika itu, aku duduk di kelas XII dan sedang mengikuti salah satu program yang diadakan oleh sekolahku. Mengajar di salah satu SD yang terlihat kekurangan SDM. Entah apa dari dulu mengajar adalah salah satu hal yang kusuka. Setiap akhir pekan, Sabtu siang sepulang sekolah, aku dan beberapa temanku diantarkan menuju tempat. Hanya beberapa saja, 5 orang termasuk aku. Sehingga cukup dalam satu mobil. Akhir-akhir ini dia getol membantu Sekolahku, karena tempatnya untuk ‘Pengabdian’. Semacam agenda tahunan dari kampus doi. Lucu memang, awalnya aku dan si doi hanya saling lirik lewat kaca spion dalam. Di mobil pun, aku hanya mampu tertawa dalam hati. Ah, apa ini? Lama kelamaan, aku harus mengumpulkan banyak kekuatan jika tiap akhir pekan. Bukan hanya materi yang akan kusampaikan nanti, tetapi juga perjalanan itu. Entah kenapa, rasanyaaa... ingin kutaklukkan tiap waktu.
            Bukan hanya itu, aku juga aktif di OSIS. Aku senang bertemu dengan banyak teman yang menginspirasi. Ya, walaupun tidak harus memegang amanah yang terlalu besar, tapi selalu menambah pengetahuan dan pengalamanku. Setiap pekan, semua siswa diberi kesempatan untuk mengirim karyanya di majalah dinding (Mading) sekolah. Nanti, akan dipilih oleh tim Mading. Ini salah satu kesukaanku. Tak sanggup ucapkan, hatiku menuaikannya dalam indah kata-kata diatas coretan pena. Seminggu, dua minggu. Api tak pernah kutampakkan jelas namaku. Hanya siratan-siratan hati untuknya, si doi. Suatu hari pun, aku dikejutkan dengan catatan puisi, sekan membalas syairku. Ah, siapa? Dengan nama pena, doi pandai menyembunyikan wajah.
Berhubung doi juga orang yang berpengaruh ketika itu, ada beberapa pertimbangan yang diberikan oleh Kepala Sekolah. Doi diberi kesempatan lebih, di luar jam pengabdian, berhubung masanya telah usai. Hari ini UAN. Sudah selayaknya siswa kelas akhir. Dan perjuanganpun berlanjut dengan memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Ya, kampus. Sudah ada beberapa daftar beasiswa yang kuincar. Maklum, jika dihitung untuk pengeluaran kampus, rasanya belum cukup. Ditambah pula dengan serba serbi kehidupan sehari-hari. Sudah hampir semua daftar beasiswa kuikuti, nihil. Terakhir pengumuman dari beasiswa Ajinomoto, salah satu industri kaya di kotaku.
Hari itu, begitu menegangkan. Kutunggu keputusan beratku. Semalam ibu sudah berbincang padaku. Solusi apa jika rencana ini gagal? Kuyakinkan ibu bahwa aku lolos seleksi. Pengumuman ditempel, tak sabar kumenantinya. Berdesar-desar, namun harapanku ada. Satu persatu wajah orang disekitarku berubah pesona. Gembira, haru, sedih, sedangkan aku? Bismillah, ternyata bukan namaku. Tak satupun tertera namaku. Dug! Rasanya jantungku serasa berhenti sejenak. Lalu bagaimana?
Teringat sebuah nasehat, mengejar ridho tidak hanya dari satu jalan. Tiba-tiba doaku menuju pada satu hal. Pernikahan! Ya, tulus, mengejar ridho Ilahi. Membahagiakan suami, dan kelak mendapat banyak doa. Semoga dilancarkan jalan yang kuimpikan. Seperti yang selalu kuucap dalam doa. Sewaktu aku mulai menginjak awal SMA, meskipun belum memiliki rencana secepat itu, tetapi doa dapat terlantunkan sepanjang saat. Karena Allah mengabulkan doa hambaNya: 1) secara langsung, 2) ditunda, ataukah 3) diganti dengan yang lebih baik.
Tak perlu lama memendam rasa, doi pun melamar. Mengetahui niat baikku yang disambutnya secara positif. Sebulan kemudian, pernikahanpun dimulai. Sederhana saja. Tetapi bukan untuk memendam impianku untuk kuliah. Hal itu pasti ada solusinya.
Senang rasanya, suamiku sangat mendukungku. Kusimpan syair-syair ‘perang’ di Mading. Lucu memang. Ingin kuabadikan untuk anak cucu kelak. Setahun kemudian aku bisa kuliah, dan menjadi lulusan terbaik. Dengan semangat dan doan yag terlengkapi.
Ya Allah, jadikanlah ia pelengkap Imanku, penyempurna dzikirku.




“Jodoh, memang adalah rencanaNya. Namun, apa salahnya jika kita berdoa sejak saat ini. Agar terlengkapi semua doa-doa yang diucapka. Jalan menuju ridho Allah bervariasi, semua adalah pilihan yang terbaik. Tidak ada pilihan yang buruk. Yang buruk adalah yang tidak memilih. Dan bagaimana ia berkomitmen dengan pilihannya tersebut.”

terinspirasi oleh kisah nyata 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rahma Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design