Selasa, 01 November 2016

Surat Untuk Mbah Kung

Assalamu’alaikum...
Salam Ceria untuk Mbah Kakung. Kabar manis terhangat dariku, bagaimana kabar mbah sekarang? Alahmdulillah, bulan ini rasanya berbeda. Rara bisa puasa di kota kebanggan mbah dulu, Surabaya. Suka duka disini mbah.. ini kali pertamanya Rara puasa disini. Kalau puasa jauh dari rumah sudah biasa ya, kalau puasa di kota metropolitan gini? Ini pengalaman seru deh. Kenapa? Rara belum menemukan secuil kebahagiian Ramadhan itu sendiri. Dulu ayah sempat cerita, katanya mbah senang sekali tinggal disini. Karena dinas mbah yang selalu berpindah tempat, ya kah? Tapi, disini pula kenangan berakhir tentang mbah. Sedih.
Sudah 6 tahun sebelumnya Rara puasa di pondok, bareng teman-teman Rara. Bahagia, karena kita punya rutinitas yang sama. Bangun untuk sahur, lalu pergi jamaah ke masjid bersama. Suasana Ramadhan selalu hadir ketika ada kebersamaan. Bahkan biasanya, beberapa bulan sebelumnya kita sudah senang sekali menyambutnya. Seperti kata Ustadz-Ustadzah, diriwayatkan hadits bahwa barang siapa yang berbahagia atas datangnya bulan Ramadhan, maka diharamkan baginya api neraka. Keren kan ya mbah. Untuk kali ini? Rara sedih, besok puasa saja rasanya tidak ada kebahagiaan itu. Hingga tarawih, puasa, dan berbuka rasanya seperti jauh dari-Nya. Kenapa ya? Rara coba intropeksi diri. Selama ini hanya dikejar deadline, sampai lupa untuk mendekat pada-Nya. Hingga suatu hari, sebuah rencana Rara rancang. Pondok kilat 10 hari, namun gagal. Tapi, daripada rugi, akhirnya Rara nikmati suasan kota Surabaya pada bulan Ramadhan.
Seminggu yang lalu, Rara pergi ke Masjid Akbar Surabaya. Naik sepeda, sendirian. Dan disitu banyak hal yang isa ditemukan. Menjadi pelajaran berharga, dan juga menyemangat ibadah. Di perjalanan banyak sekali yang bisa diperhatikan. Pertama, saking lelahnya menempuh perjalanan, Rara gak sanggup buka di Masjid sesuai rencana sebelumnya. Macet banget. Akhirnya berhenti di sebuah supermarket yang menyediakn kursi di depan. Duduk sebentar lalu adzan. Nah, ada beberapa pembeli. Awalnya sempat mengira bahwa orang tersebut non-muslim karena penampilannya, eh ternyata pasanagn suami istri tersebut singgah untuk berbuka puasa juga! Hebat! Baru kali ini. Nah, hilangkan prasangka! Hehe gitu yaa. Terus ada juga orang yang bersedia membagikan takjil padaku. Dari hal ini Rara mulai menintropeksi diri lagi. Apakah mungkin Rara lebih baik dari mereka? Kedua, ini di Masjid Akbar, setelah sholat maghrib. Karena sudah tertinggal jamaah, akhirnya Rara sholat sendiri, dan setelah salam Rara lihat di belakang ada jamaah adik-adik panti asuhan. Subhanlaah, terharu. Kenapa Rara yang paham bahwa jamaah lebih baik namun tetap memilih sendiri? Dan yang terkahir, tentang kakek tua di pinggir jalan. Beliau begitu ikhlas membersihkan area sekitar Masjid tanpa mengiba imbalan apapun.
Mulai dari situ, Rara banyak belajar bahwa inspirasi bisa datang dan hadir dimana saja. Rara kagum dan merasa kecil. Belum bisa belajar apapun. Tapi, hingga saat ini belum juga kebahagiaan itu serasa sama seperti dulu. Masih banyak yang perlu diperbaiki. Hingga suatu hari, salah seorang teman mencoba memberi saran. “Cobalah isi Ramadhan kali ini dengan sesuatu yang ‘Greget’,” ujarnya. “Bikin setiap Ramadhanmu berbeda. Jangan samakan dengan sebelum-sebelumnya.”
Dan di situ, Rara mulai merindu. Bagaimana Ramadhan yang selalu dinanti dan dinikmati bersama. Apakah mbah disana juga merasakan bahagianya Ramadhan? Kami doakan selalu. Aamiin. Sudah dulu ya mbah, kita bisa sambung lagi di lain kesempatan. Rara ingat pesan mbah.
Wassalam.



0 komentar:

Posting Komentar

 

Rahma Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design