Selasa, 17 Mei 2016

Mahasantri Perkotaan

Santri dengan tambahan ‘maha’ di depannya, akan selalu dipandang lebih unggul dari hanya ‘santri’ tanpa tambahan sebelumnya. Santri, selalu dikenal sebagai teladan yang cakap dalam berbagai aspek. Namun, tak jarang ada sedikit anggapan yang tidak berkenan di hati mereka. Santri sering didentifikasikan dengan nilai-nilai negatif di masyarakat. Seperti misalnya, malas, jorok, dan lain sebagainya. Santri sejatinya menjadi sosok yang mendalami ilmu agama. Acapkali nilai-nilai kemodernan sedikit diabaikan. Lebih mengutamakan pada nilai spiritual dan mengharapkan barokah Kyai.
Diakui bahwa pendidikan karakter di pondok pesantren memiliki ciri khas tersendiri. Sehingga berbeda dengan pendidikan pada umumnya. Mandiri, kreatif, solutif, bisa menggambarkan sifat santri. Dan sering kali yang tergambar dalam benak orang lain mengenai santri adalah kesederhanaan dan sulit menerima pembaruan. Apakah demikian? Dengan seiring kemajuan zaman, diharapkan santri bukan menolak hal tersebut. Namun justru memanfaatkan potensi mereka dan memodifikasinya menjadi lebih baik. Menemukan ide-ide kreatif yang solutif. Dengan ketawwadu’annya santri juga bisa menjadi agen pembaru. Memberi nuansa baru dalam berbagai aspek kehidupan. Mengkobinasikan nilai-nilai sosial agamis dengan kemajuan teknologi. Menurut KH. Maimun Zubair, apa tandanya santri? Santri itu ngaji. Bisa dipahami bahwa mengaji tidak sebatas mengenai ajaran agama atau kitab suci saja, tetapi mengkaji segala pelajaran.
Kemajuan teknologi tidak dapat ditolak, melihat zaman yang terus maju. Namun, sebagai santri, hal tersebut bisa diatasi dengan positif dan produktif. Mengenai tantangan zaman, santri harus mendbrak keterbelakangannya. Bukan hanya sekedar diributkan dengan masalah-masalah dalam ilmu agama, tetapi menjadi spesialis lain yang tetap menunjukan identitasnya. Seringkali, yang banyak dijumpai, ketika berhijrah menuju tingkat pendidikan selanjutnya, seperti perguruann tinggi ‘maha’ akan mejadi di atas segalanya. Keilmuannya dipandang lebih mapan dari hanya sekedar santri, baik dalam ilmu agama ataupun wawasan sekitarnya. Banyak kita jumpai pula saat ini, teknologi telah memberikan nilai positf dalam di bidang keilmuan agama. Seperti misalnya pengembangan pembelajaran kitab kuning berbasis ilmu teknologi. Saat ini,  kita dapat menemukan kitab-kitab yang jika dahulu hanya dijumpai berupa kumpulan kertas, saat ini ada pula kitab berbentuk softfile dan aplikasi. Ini menjadi suatu inovasi yang memudahkan untuk pembelajaran agama. Tentunya dengan hal tersebut dapat terbantu. Seperti misalnya mengumpulkan atau mempelajari kita yang iasanya hanya dapat dijumpai di negara lain. Ataupun kitab yang sudah tidak diduplikasikan lagi. Selain itu juga menjadi efisiensi waktu. Menghemat ongkos dan waktu juga. Ini juga merupakan hal baru dalam kehidupan santri. (AR)


Korupsi, Maslahah atau Masalah Siapa?

Indonesia rasanya tak pernah sepi dari berita penggunaan hak yang tak semestinya, korupsi. Sudah seperti mendarah daging bagi warga negara ini. Mulai dari tingkat pemerintahan yang rendah, hingga menteri atau bahkan besan dari presiden pun pernah tersandung kasus ini. Banyak dampak buruk yang terjadi. Hak yang tak tersampaikan, cita-cita yang tak sesuai harapan hingga kemiskinan yang berkepanjangan. Lantas, bagaimana peran kaum intelektual muda yang berwawasan luas ini? Apakah hanya perlu berkoar-koar menyuarakan pendapat di depan gedung DRP? Membakar fasilitas umum dan sekelumit pekerjaan tanpa pemikiran jangka panjang.
Ya, pemikiran jangka panjang. Hanya menikmati kenikmatan yang begitu mewah. Seakan-akan mata dibutakan oleh bogkahan proyek-proyek hasil raupan rupiah. Bersihkan  dari kepentingan-kepentingan lain. Kita sebagai bangsa juga mampu menyelesaikan permasalah ini bersama-sama. Bukan kita sebagai anggota KPK tapi sebagai warga negara Indonesia yang arif.
1. Pembentukan Karakter
Tidak akan pernah pudar dan akan teringat dalam memori jangka panjang. Berlaku jujur dalam setiap kesempatan apapun itu. Sekalipun tak ada orang lain yang mengawasi, justru diri kita sendiri menjadi pengawas atas kewaspadaan hal-hal yang melanggar aturan. Lebih tepatnya, pembentukan karakter berada dalam usia-usia emas (0-4 tahun) agar dapat menimbulkan kesan yang tak terlupa. Membiasakan berlaku jujur, adil, menempatkan sesuai tempatnya. Bukan berarti pendidikan karakter hanya berlaku pada usia terseut saja, namun semuanya dapat diasah perlahan. Karena sesuatu yang berproses akan menjadikannya lebih mengena. Kita bisa membiasakannya demgan berkata jujur, sekalipun itu hanyalah gurauan semata.
2. Sederhana dalam Pegelolaan Harta
Jika dalam berkecukupan, sebaiknya menggunakan seperlunya. Jika sedang banyak rezeki alangkah baiknya pula jika menggunakannya dengan bijak. Jika kita melihat dalam pedoman utama Islam, maka Surah QS. Al-Isra’ ayat 29 aka menjelaskannya.
Ÿwur ö@yèøgrB x8ytƒ »'s!qè=øótB 4n<Î) y7É)ãZãã Ÿwur $ygôÜÝ¡ö6s? ¨@ä. ÅÝó¡t6ø9$# yãèø)tFsù $YBqè=tB #·qÝ¡øt¤C ÇËÈ
Artinya :
29. dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.
Maksud dari ayat tersebut adalah kita tidak boleh bersikap kikir dan juga boros daam membelanjakan harta kita. Bentuklah skala prioritas apa saja yang sedang dan akan dibutuhkan. Menggunakan hal ini akan menjadikan kita bijaksana dalam penggunan harta. Karena salah satu faktor yang menyebabkan tindak korupsi adalah selalu merasa kurang dengan apa yang sudah dimilikinya saat ini. Maka dai itu akan senatiasa menambah harta, memperkaya diri dengan cara apapun, meskipu itu bukan cara yang baik.
            3. Mengingat Kembali, Pertanggungjawaban Harta
                        Dikutip dari kitab “Nashoihul ‘Ibad” maka kita akan diingatkan, bagaimana pertanggungjawaban dari harta yang dimiliki. Ada dua hal yang akan ditanyakan di akhirat nanti. Pertama, dari mana asalnya harta yang dimiliki? Kedua, untuk apa saja harta tersebut digunakan? Jika mendengar kisah terdahulu. Ada salah seorang dari Sahabat Rosul yang paling kaya daripada sahabat yang liannya. Abdurrohman bin Auf. Namun, Rosulullah SAW justru menyayangkan beliau. Kenapa? Karena di akhirat nanti ia akan berjalan menuju surga dengan merangkak. Hal tersebut dikarenakan begitu banyak pertanyaan mencaup pertanggungjawaban seluruh hartanya. Hal ini pula, seharusnya dapat diingatkan dengan mengingat mati.
            4. Pertukaran Posisi
Jika kenikmatan dirasakan sendiri tentu sangatlah nyaman. Namun, bagaimana apabila posisi para karuptor atauoun para penanggung perwakialn rakyat merasakan apa yang sedang dirasakan rakyatnya. Mencoba denag pertukaran posisi selama beberapa hari atau minggu. Merasakan bagaimana perasaan dan perjuangan orang miskin untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Dengan hal tersebut diharapkan mampu mengbah mindset dan pemikiran tentang tindakan korupsi. Tidak sepantasnya korupsi menjadi tradisi bangsa yang bijaksana ini.
Ikut andil dan merasakan pula bagaimana jika posisi tersebut ada pada kita. Bertahan, berdoa adalah kesungguhan dalam menjalankan hidup. Seolah-olah tengah berkelanjutan.
5. Sedekah

Meluangkan harta untuk orang lain. Sedekah merupakan penyucian harta serta hati dari keegoisan. Dari sedekah ada banyak hal yang dapat diambil manfaatnya baik jangka panjang ataupun pendek. Yaitu meningkatkan solidaritas antar sesama, menghilangkan gengsi, memumpuk sikap saling menolong dan banyak lainnya. Dari sedekah pula, ada konsep matematika Allah yang tidak dapat dijelaskan secara logika manusia. Memberi satu akan melipatgandakan pahala yang didapat. Bahkan sesederhana apapun itu. (AR)
 

Rahma Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design