Santri dengan
tambahan ‘maha’ di depannya, akan selalu dipandang lebih unggul dari hanya
‘santri’ tanpa tambahan sebelumnya. Santri, selalu dikenal sebagai teladan yang
cakap dalam berbagai aspek. Namun, tak jarang ada sedikit anggapan yang tidak
berkenan di hati mereka. Santri sering didentifikasikan dengan nilai-nilai
negatif di masyarakat. Seperti misalnya, malas, jorok, dan lain sebagainya.
Santri sejatinya menjadi sosok yang mendalami ilmu agama. Acapkali nilai-nilai
kemodernan sedikit diabaikan. Lebih mengutamakan pada nilai spiritual dan
mengharapkan barokah Kyai.
Diakui bahwa
pendidikan karakter di pondok pesantren memiliki ciri khas tersendiri. Sehingga
berbeda dengan pendidikan pada umumnya. Mandiri, kreatif, solutif, bisa
menggambarkan sifat santri. Dan sering kali yang tergambar dalam benak orang
lain mengenai santri adalah kesederhanaan dan sulit menerima pembaruan. Apakah
demikian? Dengan seiring kemajuan zaman, diharapkan santri bukan menolak hal
tersebut. Namun justru memanfaatkan potensi mereka dan memodifikasinya menjadi
lebih baik. Menemukan ide-ide kreatif yang solutif. Dengan ketawwadu’annya
santri juga bisa menjadi agen pembaru. Memberi nuansa baru dalam berbagai aspek
kehidupan. Mengkobinasikan nilai-nilai sosial agamis dengan kemajuan teknologi.
Menurut KH. Maimun Zubair, apa tandanya santri? Santri itu ngaji. Bisa dipahami
bahwa mengaji tidak sebatas mengenai ajaran agama atau kitab suci saja, tetapi
mengkaji segala pelajaran.
Kemajuan teknologi
tidak dapat ditolak, melihat zaman yang terus maju. Namun, sebagai santri, hal
tersebut bisa diatasi dengan positif dan produktif. Mengenai tantangan zaman,
santri harus mendbrak keterbelakangannya. Bukan hanya sekedar diributkan dengan
masalah-masalah dalam ilmu agama, tetapi menjadi spesialis lain yang tetap
menunjukan identitasnya. Seringkali, yang banyak dijumpai, ketika berhijrah
menuju tingkat pendidikan selanjutnya, seperti perguruann tinggi ‘maha’ akan
mejadi di atas segalanya. Keilmuannya dipandang lebih mapan dari hanya sekedar
santri, baik dalam ilmu agama ataupun wawasan sekitarnya. Banyak kita jumpai
pula saat ini, teknologi telah memberikan nilai positf dalam di bidang keilmuan
agama. Seperti misalnya pengembangan pembelajaran kitab kuning berbasis ilmu teknologi.
Saat ini, kita dapat menemukan kitab-kitab
yang jika dahulu hanya dijumpai berupa kumpulan kertas, saat ini ada pula kitab
berbentuk softfile dan aplikasi. Ini menjadi suatu inovasi yang
memudahkan untuk pembelajaran agama. Tentunya dengan hal tersebut dapat
terbantu. Seperti misalnya mengumpulkan atau mempelajari kita yang iasanya
hanya dapat dijumpai di negara lain. Ataupun kitab yang sudah tidak diduplikasikan
lagi. Selain itu juga menjadi efisiensi waktu. Menghemat ongkos dan waktu juga.
Ini juga merupakan hal baru dalam kehidupan santri. (AR)