Mengingat hari buruh yang selalu
diperingati pada tanggal 1 Mei, apakah ada stimulus yang menambah semangat
bekerja ? Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi Pancasila. Sesuai
dengan sila pertama, ketuhanan yang maha Esa, sudah dipastikan bahwa setiap
warga negara Indonesia memeluk agama sesuai kepercayaan masing-masing. Seperti
yang kita ketahui bahwa ajaran agama selalu menjadi pedoman hidup. Lantas,
apakah hal tersebut juga diterapkan oleh warga Surabaya.?
Seperti yang ditulis oleh Arief
Budiman dalam bukunya ‘Teori Pembangunan Dunia Ketiga’, dijelaskan mengenai
Etika Protestan yang dikemukakan oleh Max Weber. Salah satu topik yang penting
bagi masalah pembangunan yang dibahas Max Weber adalah tentang peran agama
sebagai faktor yang menyebabkan munculnya kapitalisme di Eropa Barat dan
Amerika Serikat. Dalam penjelesannya, Weber mencoba menjawab pertanyaan,
mengapa negara di Eropa dan Amerika Serikat mengalami kemajuan ekonomi yang
pesat dibawah sistem kapitalisme. Setelah melakukan analisis, Weber mencapai
kesimpulan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah apa yang disebut dengan
Etika Protestan. Teori ini lahir di Eropa melalui agama Protestan yang
dikembangkan oleh Calvin. Di sini muncul ajaran yang mengatakan bahwa seseorang
itu sudah ditakdirkan sebelumnya untuk masuk surga atau neraka. Tetapi, orang
tersebut tidak mengetahuinya. Cara untuk mengetahui apakah nasib yang
diterimanya adalah masuk surga atau neraka, dapat dilihat dari hasil kerja keras
saat ini. Jika di dunia ia sukses, sejahtera dan berkecukupan hidupnya maka ia
akan masuk surga begitupula sebaliknya.
Hal tersebut tidak hanya menjadi
landasan orang Protestan saja, namun semua agama mengajarkan bagaimana menjadi
orang yang menebar manfaat bagi sesama. Begitu pula dengan Islam. “Tangan
diatas lebih baik daripada tangan dibawah” kata-kata mutiara tersebut yang tak
asing didengar oleh kalangan umat Islam.
Berdasarkan hasil survei penulis, ada
beberapa data yang dapat diketahui. Bahwa seluruh responden setuju dengan hal
tersebut. Seperti yang dijelaskan oleh Ulfa, salah satu dosen di UIN Sunan
Ampel ini. Menurut Ulfa, bekerja bukan hanya untuk diri kita ataupun keluarga
saja, namun juga memberikannya kepada yang berhak. Karena dalam Islam, 2,5%
dari gaji seseorang terdapat hak orang lain yang harus diberikan. Begitu juga
dalam bulan Ramadhan, kita mengenalnya dengan zakat fitrah.
Apakah Anda merasa bahasia dengan
pekerjaan Anda?
Bahagia ataupun tidak adalah pilihan
bagi setiap individu tersebut. Mereka berhak memilih keikhlasan mereka
masing-masing. Seperti yang dikatakan oleh Muhsin Budiono, pakar Followship
Indonesia, mengatakan bahwa hampir seluruh pekerja di Indonesia hanya
berorientasi pada keuntungan. Sedangkan pekerjaan mereka dirasa bukan menjadi passion
mereka. Dimana jika seseorang mengerjakan passion nya, maka terasa
bahagia dan senang. Bukan karena target kerja yang mendesak. Seperti salah satu
dari responden, Azizatul Aula. Ia bekerja 1 jam per hari, sebagai guru TPQ.
Perempuan ini meyuki bidang ini, sehingga tidak ada paksaan untuk melakukannya.
Contoh lain berada di Balikpapan. Seorang tukang becak yang setiap hatinya
menanam 1 pohon di pinggir jalan raya. Hasilnya, setelah 3 tahun kemudian kota
Balikpapan terasa rindang dan asri. Pada awalnya pemkot dan masyarakat sempat
terkejut dari mana saja pohon-pohon tersebut. Setelah diteliti kembali ternyata
hal tersebut adalah hasil kerja keras dari tukang becak ini. Ia melakukannya
dengan senang hati tanpa paksaan. Setelah itu, pemkot memberikannya lahan
seluas 2 hektar untuk diolah.
Berapa jam durasi
Anda bekerja?
Dikuti dari
Liputan6.com, berdasarkan hasil wawancara dengan H. Ari Fahrial Syam mengatkan
bahwa “ 50 jam itu sudah waktu maksimal orang bekerja per minggunya. Tapi, tergantung
dari jenis pekerjaannya. “ Dan ada beberapa Undang-Undang yang mengatur
mengenai kontrak kerja. Salah satunya adalah pasa 54 UU No. 13/2003, Perjanjian
kerja yang dibuat secara tertulis sekurang-kurangnya harus memuat salah satunya
adalah jenis pekerjaan dan jangka waktu berlakunya perjanjian. Sehingga
berdasarkan dari survei responden, mayoritas dari mereka bekerja lebih dari 8
jam per hari. Ini dapat dipastikan mereka terdiforsir dan kurang istirahat
dalam seminggu. Namun, menurut Sumardji keluarga menjadi hiburan yang
menghilangkan semua kepenatan selama bekerja.
Berbeda
dengan Sumardji, Azizatul justru meluangkan waktunya hanya 1 jam perhari untuk
bekerja. Selebihnya ia habiskan di rumah bersama anak. Etos kerja dengan durasi
waktu yang terlalu tinggi juga membuat penat ataupun suntuk dari para
pekerjanya.
Apa yang menambah semangat Anda dalam bekerja?
Banyak penyemangat dalam hidup, namun
yang lebih utama adalah dari dalam diri masing-masing. Orang boleh menemukan
banyak motivator, sejatinya motivator terbaik adalah dirinya sendiri. Percaya
pada diri sendiri. Jika dilihat berdasarkan hasil survei, 2 dari 10 orang yang
bekerja di Surabaya ini lebih memprioritaskan pada kebuthan keluarga. 1 adalah
dari kemauan orang yang dihormati, 5 menyukai bidang tersebut dan 2 adalah
memiliki alasan lain. Seorang kepala keluarga akan merasa sangat bahagia ketika
mamu melihat kebahagiaan dari keluarganya. Begitupula ketika ia berhasil
membawa jerih payah yang lebih untuk keluarganya. Bekerja jauh merantau, dan
dengan konsekuensi yang harus ditanggung bersama. Komitmen untuk saling
menghargai setiap usaha.
5 orang lainnya merasa bahwa
profesinya ia sekarang adalah korelasi dengan inat mereka. Sehingga mereka
merasa menikmatinya meskipun dalam tekanan. Mereka akan berusaha agar menikmati
pekerjaan tersebut. 1 orang berbeda dengan yang lain. Dalam hal ini dapat
disimpulkan bahwa ia merasa ingin mebahagiakan orang yang dihormatinya degan
melakukan perintah atau kemauannya. Hal tersebut menjadi bakti atau bentuk
sayang yang ia lakukan untuk orang yang lebih dihormatinya tersebut.
Apakah ada ajaran agama yang mejadikan Anda semangat dalam
bekerja?
Ya, ada. Seluruh responden sepakat
bahwa ada dalil agama yang membuatnya semangat dalam bekerja. Seperti yang
dijelaskan Ulfa, bahwa ada salah satu hadits yang dapat kita ambil maknanya.
‘Tidak akan sempurna iman seorang muslim sebelum ia mencintai saudaranya
seperti ia mencintai dirinya’. Ulfa berpendapat, bahwa disini cinta dapat kia
maknai sebagai saling memberi manfaat. Oleh karena itu, jika seseorag telah
mampu nemepatkan orang lain seperti dirinya sendiri maka tidak ada keraguan
baginya.
Agama bukan hanya sebagai doktrin
kepuasan batin, tetapi juga sebagai pedoman hidup agar hidup lebih terarah
dengan baik. Hidup lebih tentram dan bermanfaat. Ajaran agama tidak pernah
mendoktrin pada keburukan. Agama boleh berbeda, namun keasliannya jika dilihat
dari ajaran pada sosial akan selalu sama. Memanusiakan manusia.
Gaji yang Anda perloleh, Anda gunakan untuk apa?
Seluruh responden sepakat bahwa gaji
yang mereka peroleh digunkan untuk sedekah. Dan sebagian lain untuk kebutuhan
keluarganya. Sehingga ada kepuasan batin tersendiri, ketika berhasil menerapkan
ajaran agama yang telah diketahui. Mereka percaya bahwa hal tersebut adalah
salah satu bentuk rasa syukur yang diungkapkan. Dengan memberikan sebagian dari
hasil upah, maka bisa meringankan orang yang lebih membutuhkan daripada dirinya
dan keluarga.
Sedekah dapat juga dimaknai sebagai
bentuk pertolongan yang konkrit pada sekitar kita. Hal ini juga dapat menjadi
salah satu penerapan dari Hadits Nabi yang telah disebutkan diatas. Bahwa untuk
memperkaya diri bukan selalu dari usaha keras sendiri, tetapi terdapat bantuan
dari pihak-pihak lain. Orang akan saling membutuhkan satu sama lain dan akan
mencapai keharmonisan hidup ketika saling menolong. Bahwa prinsip menuju
kesuksesan pada zaman ini bukanlah mengenai kompetisi satu sama lain, tetapi
lebih pada saling menolong. (AR)