Rabu, 29 Juni 2016

Korelasi Teori Protestan dengan Etos kerja

Mengingat hari buruh yang selalu diperingati pada tanggal 1 Mei, apakah ada stimulus yang menambah semangat bekerja ? Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi Pancasila. Sesuai dengan sila pertama, ketuhanan yang maha Esa, sudah dipastikan bahwa setiap warga negara Indonesia memeluk agama sesuai kepercayaan masing-masing. Seperti yang kita ketahui bahwa ajaran agama selalu menjadi pedoman hidup. Lantas, apakah hal tersebut juga diterapkan oleh warga Surabaya.?
Seperti yang ditulis oleh Arief Budiman dalam bukunya ‘Teori Pembangunan Dunia Ketiga’, dijelaskan mengenai Etika Protestan yang dikemukakan oleh Max Weber. Salah satu topik yang penting bagi masalah pembangunan yang dibahas Max Weber adalah tentang peran agama sebagai faktor yang menyebabkan munculnya kapitalisme di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Dalam penjelesannya, Weber mencoba menjawab pertanyaan, mengapa negara di Eropa dan Amerika Serikat mengalami kemajuan ekonomi yang pesat dibawah sistem kapitalisme. Setelah melakukan analisis, Weber mencapai kesimpulan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah apa yang disebut dengan Etika Protestan. Teori ini lahir di Eropa melalui agama Protestan yang dikembangkan oleh Calvin. Di sini muncul ajaran yang mengatakan bahwa seseorang itu sudah ditakdirkan sebelumnya untuk masuk surga atau neraka. Tetapi, orang tersebut tidak mengetahuinya. Cara untuk mengetahui apakah nasib yang diterimanya adalah masuk surga atau neraka, dapat dilihat dari hasil kerja keras saat ini. Jika di dunia ia sukses, sejahtera dan berkecukupan hidupnya maka ia akan masuk surga begitupula sebaliknya.
Hal tersebut tidak hanya menjadi landasan orang Protestan saja, namun semua agama mengajarkan bagaimana menjadi orang yang menebar manfaat bagi sesama. Begitu pula dengan Islam. “Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah” kata-kata mutiara tersebut yang tak asing didengar oleh kalangan umat Islam.
Berdasarkan hasil survei penulis, ada beberapa data yang dapat diketahui. Bahwa seluruh responden setuju dengan hal tersebut. Seperti yang dijelaskan oleh Ulfa, salah satu dosen di UIN Sunan Ampel ini. Menurut Ulfa, bekerja bukan hanya untuk diri kita ataupun keluarga saja, namun juga memberikannya kepada yang berhak. Karena dalam Islam, 2,5% dari gaji seseorang terdapat hak orang lain yang harus diberikan. Begitu juga dalam bulan Ramadhan, kita mengenalnya dengan zakat fitrah.
Apakah Anda merasa bahasia dengan pekerjaan Anda?
Bahagia ataupun tidak adalah pilihan bagi setiap individu tersebut. Mereka berhak memilih keikhlasan mereka masing-masing. Seperti yang dikatakan oleh Muhsin Budiono, pakar Followship Indonesia, mengatakan bahwa hampir seluruh pekerja di Indonesia hanya berorientasi pada keuntungan. Sedangkan pekerjaan mereka dirasa bukan menjadi passion mereka. Dimana jika seseorang mengerjakan passion nya, maka terasa bahagia dan senang. Bukan karena target kerja yang mendesak. Seperti salah satu dari responden, Azizatul Aula. Ia bekerja 1 jam per hari, sebagai guru TPQ. Perempuan ini meyuki bidang ini, sehingga tidak ada paksaan untuk melakukannya. Contoh lain berada di Balikpapan. Seorang tukang becak yang setiap hatinya menanam 1 pohon di pinggir jalan raya. Hasilnya, setelah 3 tahun kemudian kota Balikpapan terasa rindang dan asri. Pada awalnya pemkot dan masyarakat sempat terkejut dari mana saja pohon-pohon tersebut. Setelah diteliti kembali ternyata hal tersebut adalah hasil kerja keras dari tukang becak ini. Ia melakukannya dengan senang hati tanpa paksaan. Setelah itu, pemkot memberikannya lahan seluas 2 hektar untuk diolah.

 Berapa jam durasi Anda bekerja?
            Dikuti dari Liputan6.com, berdasarkan hasil wawancara dengan H. Ari Fahrial Syam mengatkan bahwa “ 50 jam itu sudah waktu maksimal orang bekerja per minggunya. Tapi, tergantung dari jenis pekerjaannya. “ Dan ada beberapa Undang-Undang yang mengatur mengenai kontrak kerja. Salah satunya adalah pasa 54 UU No. 13/2003, Perjanjian kerja yang dibuat secara tertulis sekurang-kurangnya harus memuat salah satunya adalah jenis pekerjaan dan jangka waktu berlakunya perjanjian. Sehingga berdasarkan dari survei responden, mayoritas dari mereka bekerja lebih dari 8 jam per hari. Ini dapat dipastikan mereka terdiforsir dan kurang istirahat dalam seminggu. Namun, menurut Sumardji keluarga menjadi hiburan yang menghilangkan semua kepenatan selama bekerja.
            Berbeda dengan Sumardji, Azizatul justru meluangkan waktunya hanya 1 jam perhari untuk bekerja. Selebihnya ia habiskan di rumah bersama anak. Etos kerja dengan durasi waktu yang terlalu tinggi juga membuat penat ataupun suntuk dari para pekerjanya.

Apa yang menambah semangat Anda dalam bekerja?
Banyak penyemangat dalam hidup, namun yang lebih utama adalah dari dalam diri masing-masing. Orang boleh menemukan banyak motivator, sejatinya motivator terbaik adalah dirinya sendiri. Percaya pada diri sendiri. Jika dilihat berdasarkan hasil survei, 2 dari 10 orang yang bekerja di Surabaya ini lebih memprioritaskan pada kebuthan keluarga. 1 adalah dari kemauan orang yang dihormati, 5 menyukai bidang tersebut dan 2 adalah memiliki alasan lain. Seorang kepala keluarga akan merasa sangat bahagia ketika mamu melihat kebahagiaan dari keluarganya. Begitupula ketika ia berhasil membawa jerih payah yang lebih untuk keluarganya. Bekerja jauh merantau, dan dengan konsekuensi yang harus ditanggung bersama. Komitmen untuk saling menghargai setiap usaha.
5 orang lainnya merasa bahwa profesinya ia sekarang adalah korelasi dengan inat mereka. Sehingga mereka merasa menikmatinya meskipun dalam tekanan. Mereka akan berusaha agar menikmati pekerjaan tersebut. 1 orang berbeda dengan yang lain. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa ia merasa ingin mebahagiakan orang yang dihormatinya degan melakukan perintah atau kemauannya. Hal tersebut menjadi bakti atau bentuk sayang yang ia lakukan untuk orang yang lebih dihormatinya tersebut.

Apakah ada ajaran agama yang mejadikan Anda semangat dalam bekerja?
Ya, ada. Seluruh responden sepakat bahwa ada dalil agama yang membuatnya semangat dalam bekerja. Seperti yang dijelaskan Ulfa, bahwa ada salah satu hadits yang dapat kita ambil maknanya. ‘Tidak akan sempurna iman seorang muslim sebelum ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya’. Ulfa berpendapat, bahwa disini cinta dapat kia maknai sebagai saling memberi manfaat. Oleh karena itu, jika seseorag telah mampu nemepatkan orang lain seperti dirinya sendiri maka tidak ada keraguan baginya.
Agama bukan hanya sebagai doktrin kepuasan batin, tetapi juga sebagai pedoman hidup agar hidup lebih terarah dengan baik. Hidup lebih tentram dan bermanfaat. Ajaran agama tidak pernah mendoktrin pada keburukan. Agama boleh berbeda, namun keasliannya jika dilihat dari ajaran pada sosial akan selalu sama. Memanusiakan manusia.

Gaji yang Anda perloleh, Anda gunakan untuk apa?
Seluruh responden sepakat bahwa gaji yang mereka peroleh digunkan untuk sedekah. Dan sebagian lain untuk kebutuhan keluarganya. Sehingga ada kepuasan batin tersendiri, ketika berhasil menerapkan ajaran agama yang telah diketahui. Mereka percaya bahwa hal tersebut adalah salah satu bentuk rasa syukur yang diungkapkan. Dengan memberikan sebagian dari hasil upah, maka bisa meringankan orang yang lebih membutuhkan daripada dirinya dan keluarga.
Sedekah dapat juga dimaknai sebagai bentuk pertolongan yang konkrit pada sekitar kita. Hal ini juga dapat menjadi salah satu penerapan dari Hadits Nabi yang telah disebutkan diatas. Bahwa untuk memperkaya diri bukan selalu dari usaha keras sendiri, tetapi terdapat bantuan dari pihak-pihak lain. Orang akan saling membutuhkan satu sama lain dan akan mencapai keharmonisan hidup ketika saling menolong. Bahwa prinsip menuju kesuksesan pada zaman ini bukanlah mengenai kompetisi satu sama lain, tetapi lebih pada saling menolong. (AR)




Sabtu, 04 Juni 2016

Progress of Education in Indonesia

Talking about education in Indonesia, we just face some formality programme. We can find many unique things about it. As we know Independent of Indonesia was 1945. So, when did education in Indonesia begin? Education is done everytime without we relize it. In this moment, we always blame the time. However, history always give the evaluation for next. For some people look that the responsibility of education just in formal education. Actually the almost important for determine the nest generation is character building. And almost all the problem in this era is based on the
Education in this era doesn’t give the propotional side between IQ, EQ, and SQ. Actually three of this component must be balance in order to be the amazing generation. IQ, without ES and SQ, it just like knowladge just for the self. So, how does the condition education in Indonesia in past?
The condition eduction Indonesia in the past wasn’t same like now. We know that this era there are many kinds of technology and renewal. At the past, we wouldn’t find anytechnology as renewal as now. And for teaching or formality prosess, we just used a simple tools, like; board, chalk, etc. If we look now, we can use our gadge for help our studying and support our lesson. But, there are many possitive side that lose in this era. One of them is dicipline. As we listen the story from parents or our grandparent that evertyday they go to school ontime, did their homework ontime, and many dicipline value applied. And if they didn’t do it, they would get the punishment. But now, we can look, there are many of student might lose it.
How about the progress now? From digital technology era, many ways how to find the lesson by internet it make use easy find anything. We can get it easily and fastly. We can study everywhere. This era there is kind of curiculum that has planed for future. But, the negative side, from internet it needs filter. Specially from familiy, as the nearst person around us. Child must get this right for love and care. And for the curiculem, it just reach the plan and forget about balance it between IQ, EQ, and SQ. So, we can analys that children in this era are likely naughty, and less about the insight or knowladge about social. And what must we plan for the next education? History never given any bad sides. It gives us many lesson to learn.  

Education in Indonesia must thank full for ‘Pondok Pesantren’ or Boarding School. Because, they have given many possitive lesson that never be given except in boarding school. As like, how to survive the life althougt life far from family and solve the problem by ourselves. (naura)
 

Rahma Ceria Template by Ipietoon Cute Blog Design