Akhir-akhir ini Indonesia lebih dikhawatirkan mengenai kedatangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pelbagai perihal mulai disiapkan dan direncanakan. Termasuk peran mahasiswa dalam menghadapai MEA yang semakin dekat. Seperti meningkatkan aktifitas perekonomian. Lantas, apa yang diharapkan?
Sudah menjadi kewajiban mahasiswa untuk memperbanyak ilmu, tetapi juga dengan diiringi dengan pengalaman dan wawasan luas. Namun, mengapa mahasiswa hanya dituntut untuk mencari IPK indah? Apakah kita sedang berlomba-lomba membatik siakad? Jika hanya dituntut untuk sekedar memuaskan mata akankah mudah? Kenyataanya? Perlukah sesuatu untuk membantu? Sedikit dilihat, kerisauan menghadapi MEA. Seperti adanya kegundahan hati Pusat Pengembangan Bisnis yang mencuat ketika melihat tenda-tenda itu kosong. Bukan sepi dari pembeli, tetapi penjual khususnya, mahasiswa. Tenda itu disewakan kepada mahasiswa secara pribadi ataupun berkelompok yang ingin mengembangkan bisnisnya. Meski sudah diiming-iming harga miring untuk biaya sewa. Siapa sangka, justru tempat tersebut hanya ‘tetap’ ditempati oleh penjual yang memang biasa mangkal disitu. Jika dilacak ulang, bukan hanya biaya ongkos saja sedikit menjadi gusaran mereka. Solutif, bukan hanya dituntut untuk mampu, namun kurang diperhatikan saja. Melirik sedikit ke dalam bangunan fakultas, banyak dagangan yang dijajakan para mahasiswa meski tampak sederhana. Hadir di waktu yang tepat. Mudah, efisiensi waktu, dan terjangkau baik berupa harga ataupun waktu. Mahasiswa butuh solusi. Kerja kreatif. Selain kuliah, maka dagangan bisa laris tanpa menggangu waktu kuliah. Praktis, cukup dengan menganggap kantin kejujuran dimana kejujuran mahasiswa juag diuji lagi keabsahannya. Datang bawa barang, pulang bawa uang. Kampus. Akankah keresahan masih menjadi pertanyaan mereka? Mahasiswa punya solusi. Butuh yang praktis, efisien, menguntungkan.
Lantas, masihkah terbesit bahwa mahasiswa belum mampu? Itu hanyalah mindset yang harus segera dibenahi. Kreatif dan solutif. Jika dibandingkan menjaga lapak yang akan membuat mahasiswa menentukan jam kuliah, lebih baik lapak laris, kuliah tetap prioritas. Kreatif dalam mengatur waktu dan biaya. Mahasiswa bisa. (AR)
Baguslah, memang perlu dipertimbangkan untuk kalangan mahasiswa dalam bisnis.
BalasHapus"ada dan tidak adanya fasilitas itu tidak berpengaruh, tetapi ada dan tidak adanya kemauan itu yg sangat berpengaruh"