Menumbuhkan sense of belonging. Apa itu? Rasa kepemilikan.
Seperti dalam pekerjaan. Sebagian besar orang memilih pekerjaan tersebut hanya
‘sekedar’ menikmati materi yang didapat. Tanpa dipikirkan lagi apa yang akan ia
dapat dari pekerjaan selain materi. Seperti hubungan timbal balik yang saling
ikhlas memberi. Lain halnya dengan pekerjaan yang dlakukan sesuai dengan passion
diri. Dimana selalu ada kenikmatan tersendiri untuk melakukannya. Bukan
beban, malah selalu ada inovasi baru, lagi dan lagi. Selalu merasa kurang cukup
puas dengan apa yang sudah dicapai. Rasa kepemilikan akan tumbuh ketika hal
tersebut merupakan kesenangan kita. Tiada rasa dikejar sesuatu, justru merasa
mengejar hal baru yang lebih dari itu.
Sering dilihat, bagaimana begitu banyak perbedaan dalam menyikapi
sesuatu. Karena sense of belonging itu sendiri. Peka, peduli, perhatian, akan diberikan
secara lebih jika merasa bahwa hal tersebut adalah ‘miliknya’. Begitu pula
sebaliknya. Menikmati sih, namun masih terasa dikejar sesuatu. Ada beberapa
kemungkinan. Seperti apakah sudah bergantung dengan hal tersebut atau entahlah.
Ada juga beberapa orang menganggap bahwa pekerjaan adalah tanggung
jawab mereka kepada Tuhan. Sehinga mereka mengerjakannya dengan penuh tanggung
jawab, dan mengetahui bahwa Tuhan akan membalas apa saja yang tekah diperbuat.
Oleh karena itu, ada pertanyaan, apakah pemahaman agama berkolerasi dengan etos
kerja? Dalam kenyataannya, beberapa hal tersebut justru ada benarnya.
Dipungkiri atau tidak, sedikit banyak ada pengaruh terhadap etos kerja.
Namun, bukan hanya pemahaman agama. Banyak pula dijumpai orang yang
berprofesi melayani orang lain. Dalam hal ini, terlebih jika tidak ada
tuntutan, maka orang tersebut melakukannya sebatas pekerjaan selesai tanpa
memikirkan kepuasan dari pelanggan yang dilayani tersebut. Semisal di
minimarket, dimana mengahruskan kasir harus berlaku baik, menyapa dengan sapaan
yang sudah ditentukan, agar gaji mereka tidak dipotong. Karena kepuasan
konsuman juga akan berdampak pada penjualan minimarket tersebut. Berbeda dengan
beberapa pelayanan konsumen, dimana tempat tersebut mereka bertemu dengan banyak
orang dan berbagai kebutuhan. Semisal saja pada pelayanan transportasi. Tidak
semua pelayanannya bersifat melayani konsumen. Justru pula ada beberapa yang
merasa kesal karena berjumpa dengan pertanyaan yang sama atau hal – hal lain
yang sama. Seharusnya, sebelum bekerja mereka sudah menyadari bahwa hal
tersebut merupakan resiko yang ditanggung mereka, mengingat profesi mereka yang
menuntut kenyamanan orang lain. Muka masam, intonasi tinggi, tapi mereka tetap
lakukan tersebut kareana konsemun akan tersu menggunakan jasa mereka. Berbeda
dengan sistem minimarket yang berupaya agar konsumen mereka puas dan bertambah.
Pelayanan pun berbeda, bagaiman jika seumpama konsumen yang mereka hadapi
adalaha keluarga mereka sendiri, apakah pelayanannya akan sama? Sudah sebuah
naluri kemanusiaan, jika merasa orang yang dekat dengannya akan diperlakuakn
secara baik pula. “Tenang aja, mereka juga bukan siapa-siapa saya. Jadi, kalau
mereka seperti itu, ya sudah.” Dimana konsumen membayar uang untuk profesi
mereka. Lantas, pernah kah terpikir bagaimana memposisikan orang lain seperti
dirinya sendiri? Jadi, tanggung jawab ini milik siapa?



